tiga dimensi (lagi)

jadi hari ini,

hujan, pukul sepuluh pagi

perkuliahan estetika bentuk, kami

belajar tiga dimensi

sementara kemarin,

hujan pula, pukul satu siang hari

soalsoal ujian agama, muncul materi

perihal risalah islam yang mencakup tiga dimensi

ada rencana esok hari

semoga hujan, semoga terjadi

mari kita samasama menulis puisi

yang tiga dimensi

Published in: on March 31, 2010 at 11:11 am  Comments (5)  
Tags: , ,

hujan, aku ingat Thia…

“hujan, hujan jangan marah :(“

hujan,

coba turun dan jatuh saja

pelanpelan

biar dia, seorang anak perempuan

peserta uan

tak merasa ketakutan

Published in: on March 31, 2010 at 10:53 am  Leave a Comment  
Tags: , ,

surat cinta untuk mama

Mama sayang di Pulau Seberang, kota kami diguyur hujan. Deras sekali. Langit mungkin sedang sedih tak karuan. Bagaimana kondisi disana? Apakah malammalam masih menjadi yang benarbenar malam? Malam yang seperti telah engkau ceritakan. Malam yang sejak pukul sembilanbelas sudah tak kenal cahaya, selain dian dari bintang dan bulan. Ah, kapan lagi anakmu ini bisa bermain ke Pulau Seberang. Menikmati malam yang benarbenar malam bersama Mama tersayang.

Mama sayang di Pulau Seberang, ingat tidak kalau ini sudah bulan Desember? Hari yang ke limabelas tepatnya. Seminggu lagi hari untukmu. Mereka tidak menyebutnya sebagai ‘Hari Mama’, melainkan ‘Hari Ibu’. Ah, sama saja menurutku. Aku tahu, engkau tak lupa bahwa ini sudah Desember. Aku pun tahu, engkau tak pernah lupa bahwa seminggu lagi tanggal duapuluh dua. Engkau selalu ingat itu. Waktu dimana engkau akan menerima amplop berjumlah empat dari keempat anakmu. Bukan amplop seperti yang diterima orangorang di atas atau di bawah sana. Engkau pun selalu tahu isinya apa. Puisipuisi dengan cara penyajian yang berbeda.

Mama sayang di Pulau Seberang, amplop untuk duapuluh dua Desember tahun ini sedang kupersiapkan. Tunggulah Pak Pos yang akan mengantarkan. Ah, aku jadi ingat amplop pertamaku untukmu. Yang aku tulis saat aku duduk di sekolah dasar kelas satu. Amplop berisikan puisi yang jika dewasa ini isinya kulihat kembali, maka sambil senyumsenyum sendiri ingin ku katakan katakata itu sungguh seperti bukan puisi. Masihkah engkau simpan baikbaik suratsurat itu? Terakhir yang aku tahu, kau menyimpannya di halamanhalaman buku yang kau simpan tertutup dalam kotak di lemari baju.

Mama sayang di Pulau Seberang, surat ini aku sebut surat cinta, meski kata cinta tidak selalu muncul di dalamnya. Tak apa, kan? Aku selalu tahu, engkau adalah penyair dan penafsir paling hebat yang pernah ada. Aku selalu tahu engkau mengerti surat ini punya arti. Dengan kata cinta yang hanya ada tiga.

Mama sayang di Pulau Seberang yang aku sayang. Cukup disini suratku. Aku masih harus menuntaskan banyak hal dengan hujan, engkau pun begitu. Masih harus berbincang banyak dengan malam. Wassalam.

Published in: on December 15, 2009 at 3:26 pm  Comments (22)  
Tags: , ,