tentang kebersamaan

Tidak, jangan salah kaprah dulu. Saya tidak menentang sebuah kebersamaan. Maksud saya, tulisan ini mengenai sebuah kebersamaan. Tulisan ini adalah puncak dari tulisan-tulisan saya mengenai “minoritas” yang selalu membuat saya sangat bersemangat menulis di bilik ini. Semoga benar-benar puncak dan puncak yang benar-benar baik. Sungguh! Setiap kali saya harus marah dengan mereka, justru setiap kali itu pula saya harus gelisah dan merindukan sebuah kebersamaan seperti apa yang mungkin sebelumnya sudah ada. Setiap waktu selalu ada rasa untuk kembali bersatu. Tapi setiap waktu pula saya selalu bingung bagaimana caranya menyatukan puluhan hati dan kepala yang pemikirannya tidak pernah sama. Sampai suatu ketika di sebuah status facebook yang saya tidak perlu menyebutkan nama penulis statusnya…muncul sebuah komentar yang membuat saya tergerak untuk menuliskan apa yang anda baca saat ini. Ok, komentar itu seperti ini :

kebersamaan itu bukan selalu harus dalam kondisi yang sama.. kebersamaan itu lahir ketika kita bisa saling menerima kondisi yang lain—-seorang senior yang pertama saya dapatkan punya kata paling bijak—

Mungkin kalian tidak bisa menerima kami sebagai saudara, sahabat. Persahabatan sudah lebih dari cukup sebagai pondasi kita bersama untuk berdiri di tempat ini. Beberapa orang menyatakan, persahabatan justru punya denyut yang lebih kuat dibandingkan persaudaraan. Tapi ini terserah bagi kita yang menafsirkannya.

Setelah membaca kutipan di atas (sesuatu yang selama ini sama-sama bodoh kita perdebatkan), maka adakah nadi yang tiba-tiba denyutnya berbeda disana? adakah jantung yang berdegup lain dari biasanya? adakah hati yang tergerak untuk meminta maaf dan siap dengan ikhlas untuk menerima kata dan rasa maaf dari tempat yang berbeda? adakah itu semua, kawan? ya, mari segera kita pikirkan!

Advertisements
Published in: on December 19, 2009 at 9:15 pm  Comments (7)  
Tags: , ,