selasa siang mereka datang

Saya baru saja ‘berniat’ bangkit dari tempat duduk setelah sang pendidik sukses meraih gagang pintu dan keluar meninggalkan kelas. Sayang sekali, entah ‘pergerakan’ saya yang lambat atau mereka yang terlalu cepat berada di tempat. Entah berapa kepala jumlah mereka. Sedari tadi kami lebih memilih untuk tunduk saja. Bukan pilihan sebenarnya, mungkin lebih tepat disebut ketentuan dan ketakutan. Saya ingin keluar dari sini, sungguh ! Kepala saya sakit sejak pembelajaran bahasa bermula. Saya sakit kepala sejak suhu ruangan ini terlampau dingin. Saya benar-benar ingin keluar ….

“Keluarlah…kau memang bukan bagian dari kami”. “Keluar dan pergilah sejauh mungkin!”. (Kalimat ini sudah dihaluskan dari aslinya).
Saya memang ingin keluar,terima kasih… Bukankah sejak lama saya memang tahu diri sebagai minoritas. Tidak ada yang aneh. Saya menganggap semuanya biasa saja. Mungkin karena kebetulan saya sendiri di bilik ini. Hey,tahukah kalian? Saya punya sembilan orang teman di kelas sebelah. Kami sama-sama minoritas. Kami pun belajar perihal mental dan disiplin. Bedanya, kami mempelajari semuanya tidak dari kalian. Kami belajar sendiri, kalaupun bersama mungkin hanya duabelas orang saja. Sesama kami yang minoritas berkualitas disini.

Published in: on November 24, 2009 at 9:04 am  Comments (2)  
Tags:

inilah kami yang minoritas

Ini sudah hari apa ya ? oh iya , baru hari Selasa (nanya sendiri – jawab sendiri) . Berarti masih ada ‘banyak’ hari lagi untuk mengistirahatkan telinga dari suara-suara mayoritas yang selalu mengumandangkan perkataan tak berguna . Hahaha . Susah dimengerti oleh kalian ! Lagipula memang tidak penting untuk kalian mengerti. Kecuali kalian, para mayoritas. Mungkin ada satu dari sekian ‘tak terhingga’ dari kalian yang ‘beruntung’ tersesat di blog saya. Blog yang mungkin juga mewakili aspirasi para minoritas yang jumlahnya lebih sedikit dari kesebelasan sepakbola.

Inilah kami -para minoritas-, yang sejak terbitnya senin hingga terbenamnya jumat selalu terpaksa mendengar suara-suara keras kalian yang sampai saat ini tak kami ketahui ‘manfaatnya’ apa. Tapi kami tidak merasa mati dengan ini semua. Kamilah minoritas yang menurut kalian tak pantas ada di tempat ini. Kamilah minoritas yang menurut kalian harus mundur untuk menjadi apa yang kami inginkan.

Kalian bisa berkata demikian. Tapi maaf saja, kalian bukan siapasiapa. Kita samasama hidup di tempat ini karena suatu keputusan tinggi. Keputusan yang bukan sebuah ‘kebetulan’ (seperti yang selalu kalian perdengarkan pada kami). Ini takdir atas usaha kami dan kalian. Oh ya, bahkan mungkin kami berada pada posisi teratas dibanding kalian.

Sekedar info : Kami memang minoritas, namun bukannya kami tak pantas 🙂

Published in: on November 10, 2009 at 2:50 pm  Leave a Comment  
Tags: ,