tiga dimensi (lagi)

jadi hari ini,

hujan, pukul sepuluh pagi

perkuliahan estetika bentuk, kami

belajar tiga dimensi

sementara kemarin,

hujan pula, pukul satu siang hari

soalsoal ujian agama, muncul materi

perihal risalah islam yang mencakup tiga dimensi

ada rencana esok hari

semoga hujan, semoga terjadi

mari kita samasama menulis puisi

yang tiga dimensi

Published in: on March 31, 2010 at 11:11 am  Comments (5)  
Tags: , ,

hujan, aku ingat Thia…

“hujan, hujan jangan marah :(“

hujan,

coba turun dan jatuh saja

pelanpelan

biar dia, seorang anak perempuan

peserta uan

tak merasa ketakutan

Published in: on March 31, 2010 at 10:53 am  Leave a Comment  
Tags: , ,

suatu rabu

awan hampir semua tak berwajah biru dan titik rintik hujan yang perlahan jatuh satusatu. ah! mengapa wajah tulus tanpa pernah serius itu berubah kelabu? mengapa engkau berubah menjadi seorang paling pelit bahkan untuk mengucap sepatah saja kata? hey! berucaplah meski sepelan nyanyian hujan pagi tadi. yang katakatanya hanya jatuh satusatu.

pada suatu rabu, ingin kukatakan: gaduhmu adalah hidupku!

Published in: on February 3, 2010 at 8:58 am  Comments (12)  
Tags: , , ,

hadir sesaat

Sudah lama tak ada hal baru di lembaran ini. Saya pikir pengunjungnya sudah tak ada lagi. Alhamdulillah, meski akhirakhir ini saya hanya menyempatkan diri sekadar melihat tanpa sempat memahat katakata, ada saja tamu yang menghampiri dan memahat katakata baru di bawah katakata yang telah lama saya pahat. Cukup kaget melihat jumlah tamu belakangan ini. Ada duapuluh pengunjung. Tanpa aktivitas ‘silaturrahmi’ blog dari saya sebelumnya. Siapa saja mereka? Entahlah, saya juga baru mengenal mereka dari gambar muka dan alamat blog dengan namanama yang sesuai kreatifitas mereka.

Belum ada hal lain yang hendak saya tuliskan, cukup ini saja. Hujan sedang jatuh berguguran demikian hebatnya. Dan saya hendak menikmatinya. Esok, lusa, atau ketika kami berhenti bermain bersama, akan kuceritakan semua. Tentang bagaimana indahnya titiktitik air itu di musimnya sendiri.

Published in: on January 9, 2010 at 6:57 pm  Comments (26)  
Tags: ,

kamis pagi,hujan tak juga pergi

Sejak pukul sepuluh malam pada hari yang masih bernama rabu, ia datang menepati janji. Janjinya pada mereka yang rindu akan dingin. Mereka yang rindu alunan musik yang rintik. Dan suara-suara halilintar yang paling bergetar. Tak tanggung-tanggung hingga pagi menjelang, masih setia ia di sana. Menemani lelap mereka yang sabar menanti. Bahkan mereka yang kembali terlelap usai shalat shubuh sekalipun !

Sudah pukul sembilan pagi pada hari yang bukan rabu lagi.
Kamis pagi,hujan tak juga pergi….

Published in: on November 26, 2009 at 8:06 am  Comments (3)  
Tags: ,

sedikit tentang hujan

Hujan kedua di bulan kedua dari akhir tahun duaribu sembilan. Hujan yang kembali mempertemukan kita pada berbagai objek rindu. Aroma tanah yang basah, dedaunan berwarna hijau segar, rasa sejuk ataupun dingin yang mengundang lelap, genangan air cukup dalam kecoklatan, dan segalanya yang hanya ada saat ia jatuh menimpa kita. Lihat bagaimana hujan ini turun, tak terlalu banyak. Hari ini saja hanya pada dua waktu ia berkata. Pertama, disaat mata kuliah bahan bangunan sementara berlangsung. Berhenti-reda–. Kedua, disaat dosen wawasan ipteks berbicara. Ia (bukan hujan, tetapi dosen saya) tadi menyinggung sedikit perihal jatuhnya hujan di daratan kota Makassar. Semoga di semua Sulawesi Selatan. Katanya, syukurlah hujan masih mau jatuh. Setidaknya masih ada harapan kalian menikmati tetes-tetes listrik. Meskipun setiap malam kalian harus belajar menjadi Lintang. Belajar untuk tetap bisa belajar. Rumah kalian semua isinya listrik dan kalian butuh listrik . Listrik di tempat ini butuh pembangkit yang butuh pergerakan air. Bersyukurlah, hujan masih sempat dijatuhkan oleh-Nya ! Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, jangan lupa berdoa agar hujan ini tak berlebihan. Dan suatu waktu tak membuat orangorang yang ditimpanya merasa kebanjiran. (Kalau yang ini saya yang bilang)

Published in: on November 12, 2009 at 9:44 am  Comments (4)  
Tags: , ,