suatu rabu

awan hampir semua tak berwajah biru dan titik rintik hujan yang perlahan jatuh satusatu. ah! mengapa wajah tulus tanpa pernah serius itu berubah kelabu? mengapa engkau berubah menjadi seorang paling pelit bahkan untuk mengucap sepatah saja kata? hey! berucaplah meski sepelan nyanyian hujan pagi tadi. yang katakatanya hanya jatuh satusatu.

pada suatu rabu, ingin kukatakan: gaduhmu adalah hidupku!

Advertisements
Published in: on February 3, 2010 at 8:58 am  Comments (12)  
Tags: , , ,

kamis ini saya minta maaf

saya tidak tahu ini sudah kata MAAF yang keberapa kali yang pernah saya ucapkan tuliskan. sepertinya saya punya hobi yang lain yang jauh berbeda dengan orangorang biasanya. mereka punya hobi berbuat salah, sedangkan saya lebih gemar meminta maaf. saya tahu saya salah. seperti biasa: saya selalu mengecewakan.

kamis ini saya minta maaf pada anda yang sepertinya terlalu banyak salah yang saya perbuat disana. anda mungkin sudah jera berjalan berlamalama bersama saya. saya masih tidak menyenangkan untuk diajak jalan kemanamana. saya tidak marah. saya hanya diam. saya tidak pernah marah, apalagi untuk anda.

jadi kamis ini saya minta maaf untuk segala yang tidak menyenangkan, segala yang mengecewakan. mungkin saya memang orang yang tidak punya senyum, tidak kooperatif, bagian yang merusak bagian indah lainnya, dan lainlainnya. saya minta maaf.

Published in: on December 24, 2009 at 12:27 am  Comments (13)  
Tags: ,

minggu yang masih menunggu

segelas kopi tidak hitam dan beberapa potong ketela. kakak tertua dan ibu paling tiada duanya bersuara pada telepon genggam di pulau lain di luar sana. setengah jam bukan waktu yang cukup untuk menghabiskan malam ini bersama ceritacerita rindu mereka. entah sudah berapa potong ketela tenggelam di lambung di bawah sana. segelas kopi tidak hitam yang masih berupa cerita. menemani hari minggu yang masih menunggu.

malam minggu, ini tak lain dari waktu minggu yang masih menunggu.

seseorang yang segera pulang dan mengaku tak merindu. benarkah?

Published in: on December 12, 2009 at 2:35 pm  Comments (19)  
Tags: ,

catatan kecil tentang dia

sejak masuk di bilik ini saya sudah menangkap matanya yang lelah. mungkin sudah berpuluhpuluh jam ia tak rebah. badannya terlihat rapuh seperti akan menghampiri tanah-jatuh! minggu siang ini ia lebih banyak merapat pada dinding. menepi dari tawa-tawa yang sebenarnya tak terlalu berarti, tawa-tawa yang mungkin sekadar acara pengisi,tapi mungkin ada yang juga benar-benar tulus dari yang paling hati. sesekali teriakannya tiba ditengah-tengah bilik ini. teriakan yang kadang ada juga samanya dengan teriakan ‘mereka’ yang datang setiap selasa siang. wajar saja, ia pernah hidup di tenda pengungsian yang sama dengan saya, meski lain waktunya. tenda yang para penghuninya selalu unik dijadikan puisi.

Published in: on December 8, 2009 at 10:36 am  Comments (17)  
Tags: , , ,