suatu rabu

awan hampir semua tak berwajah biru dan titik rintik hujan yang perlahan jatuh satusatu. ah! mengapa wajah tulus tanpa pernah serius itu berubah kelabu? mengapa engkau berubah menjadi seorang paling pelit bahkan untuk mengucap sepatah saja kata? hey! berucaplah meski sepelan nyanyian hujan pagi tadi. yang katakatanya hanya jatuh satusatu.

pada suatu rabu, ingin kukatakan: gaduhmu adalah hidupku!

Published in: on February 3, 2010 at 8:58 am  Comments (12)  
Tags: , , ,

hadir sesaat

Sudah lama tak ada hal baru di lembaran ini. Saya pikir pengunjungnya sudah tak ada lagi. Alhamdulillah, meski akhirakhir ini saya hanya menyempatkan diri sekadar melihat tanpa sempat memahat katakata, ada saja tamu yang menghampiri dan memahat katakata baru di bawah katakata yang telah lama saya pahat. Cukup kaget melihat jumlah tamu belakangan ini. Ada duapuluh pengunjung. Tanpa aktivitas ‘silaturrahmi’ blog dari saya sebelumnya. Siapa saja mereka? Entahlah, saya juga baru mengenal mereka dari gambar muka dan alamat blog dengan namanama yang sesuai kreatifitas mereka.

Belum ada hal lain yang hendak saya tuliskan, cukup ini saja. Hujan sedang jatuh berguguran demikian hebatnya. Dan saya hendak menikmatinya. Esok, lusa, atau ketika kami berhenti bermain bersama, akan kuceritakan semua. Tentang bagaimana indahnya titiktitik air itu di musimnya sendiri.

Published in: on January 9, 2010 at 6:57 pm  Comments (26)  
Tags: ,

kamis ini saya minta maaf

saya tidak tahu ini sudah kata MAAF yang keberapa kali yang pernah saya ucapkan tuliskan. sepertinya saya punya hobi yang lain yang jauh berbeda dengan orangorang biasanya. mereka punya hobi berbuat salah, sedangkan saya lebih gemar meminta maaf. saya tahu saya salah. seperti biasa: saya selalu mengecewakan.

kamis ini saya minta maaf pada anda yang sepertinya terlalu banyak salah yang saya perbuat disana. anda mungkin sudah jera berjalan berlamalama bersama saya. saya masih tidak menyenangkan untuk diajak jalan kemanamana. saya tidak marah. saya hanya diam. saya tidak pernah marah, apalagi untuk anda.

jadi kamis ini saya minta maaf untuk segala yang tidak menyenangkan, segala yang mengecewakan. mungkin saya memang orang yang tidak punya senyum, tidak kooperatif, bagian yang merusak bagian indah lainnya, dan lainlainnya. saya minta maaf.

Published in: on December 24, 2009 at 12:27 am  Comments (13)  
Tags: ,

tentang kebersamaan

Tidak, jangan salah kaprah dulu. Saya tidak menentang sebuah kebersamaan. Maksud saya, tulisan ini mengenai sebuah kebersamaan. Tulisan ini adalah puncak dari tulisan-tulisan saya mengenai “minoritas” yang selalu membuat saya sangat bersemangat menulis di bilik ini. Semoga benar-benar puncak dan puncak yang benar-benar baik. Sungguh! Setiap kali saya harus marah dengan mereka, justru setiap kali itu pula saya harus gelisah dan merindukan sebuah kebersamaan seperti apa yang mungkin sebelumnya sudah ada. Setiap waktu selalu ada rasa untuk kembali bersatu. Tapi setiap waktu pula saya selalu bingung bagaimana caranya menyatukan puluhan hati dan kepala yang pemikirannya tidak pernah sama. Sampai suatu ketika di sebuah status facebook yang saya tidak perlu menyebutkan nama penulis statusnya…muncul sebuah komentar yang membuat saya tergerak untuk menuliskan apa yang anda baca saat ini. Ok, komentar itu seperti ini :

kebersamaan itu bukan selalu harus dalam kondisi yang sama.. kebersamaan itu lahir ketika kita bisa saling menerima kondisi yang lain—-seorang senior yang pertama saya dapatkan punya kata paling bijak—

Mungkin kalian tidak bisa menerima kami sebagai saudara, sahabat. Persahabatan sudah lebih dari cukup sebagai pondasi kita bersama untuk berdiri di tempat ini. Beberapa orang menyatakan, persahabatan justru punya denyut yang lebih kuat dibandingkan persaudaraan. Tapi ini terserah bagi kita yang menafsirkannya.

Setelah membaca kutipan di atas (sesuatu yang selama ini sama-sama bodoh kita perdebatkan), maka adakah nadi yang tiba-tiba denyutnya berbeda disana? adakah jantung yang berdegup lain dari biasanya? adakah hati yang tergerak untuk meminta maaf dan siap dengan ikhlas untuk menerima kata dan rasa maaf dari tempat yang berbeda? adakah itu semua, kawan? ya, mari segera kita pikirkan!

Published in: on December 19, 2009 at 9:15 pm  Comments (7)  
Tags: , ,

surat cinta untuk mama

Mama sayang di Pulau Seberang, kota kami diguyur hujan. Deras sekali. Langit mungkin sedang sedih tak karuan. Bagaimana kondisi disana? Apakah malammalam masih menjadi yang benarbenar malam? Malam yang seperti telah engkau ceritakan. Malam yang sejak pukul sembilanbelas sudah tak kenal cahaya, selain dian dari bintang dan bulan. Ah, kapan lagi anakmu ini bisa bermain ke Pulau Seberang. Menikmati malam yang benarbenar malam bersama Mama tersayang.

Mama sayang di Pulau Seberang, ingat tidak kalau ini sudah bulan Desember? Hari yang ke limabelas tepatnya. Seminggu lagi hari untukmu. Mereka tidak menyebutnya sebagai ‘Hari Mama’, melainkan ‘Hari Ibu’. Ah, sama saja menurutku. Aku tahu, engkau tak lupa bahwa ini sudah Desember. Aku pun tahu, engkau tak pernah lupa bahwa seminggu lagi tanggal duapuluh dua. Engkau selalu ingat itu. Waktu dimana engkau akan menerima amplop berjumlah empat dari keempat anakmu. Bukan amplop seperti yang diterima orangorang di atas atau di bawah sana. Engkau pun selalu tahu isinya apa. Puisipuisi dengan cara penyajian yang berbeda.

Mama sayang di Pulau Seberang, amplop untuk duapuluh dua Desember tahun ini sedang kupersiapkan. Tunggulah Pak Pos yang akan mengantarkan. Ah, aku jadi ingat amplop pertamaku untukmu. Yang aku tulis saat aku duduk di sekolah dasar kelas satu. Amplop berisikan puisi yang jika dewasa ini isinya kulihat kembali, maka sambil senyumsenyum sendiri ingin ku katakan katakata itu sungguh seperti bukan puisi. Masihkah engkau simpan baikbaik suratsurat itu? Terakhir yang aku tahu, kau menyimpannya di halamanhalaman buku yang kau simpan tertutup dalam kotak di lemari baju.

Mama sayang di Pulau Seberang, surat ini aku sebut surat cinta, meski kata cinta tidak selalu muncul di dalamnya. Tak apa, kan? Aku selalu tahu, engkau adalah penyair dan penafsir paling hebat yang pernah ada. Aku selalu tahu engkau mengerti surat ini punya arti. Dengan kata cinta yang hanya ada tiga.

Mama sayang di Pulau Seberang yang aku sayang. Cukup disini suratku. Aku masih harus menuntaskan banyak hal dengan hujan, engkau pun begitu. Masih harus berbincang banyak dengan malam. Wassalam.

Published in: on December 15, 2009 at 3:26 pm  Comments (22)  
Tags: , ,

kami baikbaik saja

kami baikbaik saja disini, di tempat kami berdiri setelah kami pilih jalan kami. kami baikbaik saja sejak awalnya. sejak kalian yang memaksa berkata tidak mungkin disini kami baikbaik saja berdiri. sampai detik ini sama saja, kami tetap baikbaik saja. kalaupun pada pertengahannya akan ada banyak bencana. sudah kewajiban dan harga mati bagi kami untuk melewatinya dengan cara yang baikbaik saja. entah disana, di tempat yang tidak perlu kami tahu namanya, kalian terus menakdirkan kami sebagai orangorang yang akan susah selamanya. ini yang terus kalian katakan sejak mentari ada hingga mentari pulang dari langit punya beranda. kami baru tahu bahwa kini terlalu banyak orangorang terobsesi menjadi tuhan. sepertinya ini tandatanda akhir zaman, ya kan?

sudahlah, tenang saja dengan segala cara paling tenang yang kalian punya. meski kami selalu tahu tenang yang paling mungkin bagi kalian adalah ribut dan ramai yang berdentangdentang. tenang saja. meski kita bukan saudara, kita masih berteman kan? itu yang salah satu dari kalian pernah katakan. iya, karena dengan masih berkata bahwa kita semua ‘berteman’ maka mungkin salah satu dari kalian atau mungkin kalian semua akan selalu berada pada posisi yang sangat aman. aman sebab dalam setiap pertemuan ‘menuntut ilmu’ poinpoin yang kalian dapat mungkin semua berasal dari kami.

oh iya, lalu kemana orangorang yang berobsesi menjadi tuhan tadi? siapa sebenarnya yang pantas disebut pecundang?

Published in: on December 15, 2009 at 3:19 am  Comments (10)  

minggu yang masih menunggu

segelas kopi tidak hitam dan beberapa potong ketela. kakak tertua dan ibu paling tiada duanya bersuara pada telepon genggam di pulau lain di luar sana. setengah jam bukan waktu yang cukup untuk menghabiskan malam ini bersama ceritacerita rindu mereka. entah sudah berapa potong ketela tenggelam di lambung di bawah sana. segelas kopi tidak hitam yang masih berupa cerita. menemani hari minggu yang masih menunggu.

malam minggu, ini tak lain dari waktu minggu yang masih menunggu.

seseorang yang segera pulang dan mengaku tak merindu. benarkah?

Published in: on December 12, 2009 at 2:35 pm  Comments (19)  
Tags: ,

catatan kecil tentang dia

sejak masuk di bilik ini saya sudah menangkap matanya yang lelah. mungkin sudah berpuluhpuluh jam ia tak rebah. badannya terlihat rapuh seperti akan menghampiri tanah-jatuh! minggu siang ini ia lebih banyak merapat pada dinding. menepi dari tawa-tawa yang sebenarnya tak terlalu berarti, tawa-tawa yang mungkin sekadar acara pengisi,tapi mungkin ada yang juga benar-benar tulus dari yang paling hati. sesekali teriakannya tiba ditengah-tengah bilik ini. teriakan yang kadang ada juga samanya dengan teriakan ‘mereka’ yang datang setiap selasa siang. wajar saja, ia pernah hidup di tenda pengungsian yang sama dengan saya, meski lain waktunya. tenda yang para penghuninya selalu unik dijadikan puisi.

Published in: on December 8, 2009 at 10:36 am  Comments (17)  
Tags: , , ,

terima kasih semua

hey,kawan! lihatlah betapa tak sia-sia waktu yang sisa beberapa..

setidaknya cukup untuk mengajak duabelas orang dan belum termasuk mereka yang mendukung usai pukul sembilan di tanggal desember yang enam..terima kasih kepada: teman SD saya  wahyunijuanda dan dwinta, senior-senior saya sewaktu SMA kak yaya dan kak gugun, pengunjung setia blog ini kak ivan, kaum minoritas yang selalu cerdas giska, jelmaan giska, dan kak rara, kakak dari adik yang saya sayangi kak izz, sahabat sejak lama saya nino, teman baru yang tak pernah bertemu dea , om madong dan iccangiccang lagiiccang juga,  adik kelas semasa SMA dhiny, ponakan yang cerdas ayat beserta umminya, perwakilan dari anak QUANT03M aliyah, kakak yang warnetnya jadi tempat saya ngenet kak eko

TERIMA KASIH, SAHABAT…

Published in: on December 7, 2009 at 5:14 pm  Comments (24)  
Tags: , ,

tinggal beberapa hitungan waktu lagi…

tinggal beberapa hitungan waktu

bagi yang merasa saya pantas didukung,

dukung saja di sini

terima kasih

salam,

ANDY HARDIYANTI HASTUTI

Published in: on December 4, 2009 at 8:55 am  Comments (22)  
Tags: , ,