Saya baru saja ‘berniat’ bangkit dari tempat duduk setelah sang pendidik sukses meraih gagang pintu dan keluar meninggalkan kelas. Sayang sekali, entah ‘pergerakan’ saya yang lambat atau mereka yang terlalu cepat berada di tempat. Entah berapa kepala jumlah mereka. Sedari tadi kami lebih memilih untuk tunduk saja. Bukan pilihan sebenarnya, mungkin lebih tepat disebut ketentuan dan ketakutan. Saya ingin keluar dari sini, sungguh ! Kepala saya sakit sejak pembelajaran bahasa bermula. Saya sakit kepala sejak suhu ruangan ini terlampau dingin. Saya benar-benar ingin keluar ….
“Keluarlah…kau memang bukan bagian dari kami”. “Keluar dan pergilah sejauh mungkin!”. (Kalimat ini sudah dihaluskan dari aslinya).
Saya memang ingin keluar,terima kasih… Bukankah sejak lama saya memang tahu diri sebagai minoritas. Tidak ada yang aneh. Saya menganggap semuanya biasa saja. Mungkin karena kebetulan saya sendiri di bilik ini. Hey,tahukah kalian? Saya punya sembilan orang teman di kelas sebelah. Kami sama-sama minoritas. Kami pun belajar perihal mental dan disiplin. Bedanya, kami mempelajari semuanya tidak dari kalian. Kami belajar sendiri, kalaupun bersama mungkin hanya duabelas orang saja. Sesama kami yang minoritas berkualitas disini.

